HomeEntertainmentSeni BudayaMengenal Asal Usul Grebeg, Tradisi Lebaran di Keraton Jogja

Mengenal Asal Usul Grebeg, Tradisi Lebaran di Keraton Jogja

Tradisi Grebeg adalah salah satu perayaan yang paling ikonik di Keraton Jogja. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah Jogja, tetapi juga menggambarkan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Grebeg atau Garebeg memiliki arti ‘diiringi’ atau ‘diantar’. Hal ini merujuk pada iring-iringan para prajurit dan abdi dalem keraton yang membawa gunungan dari keraton ke Masjid Gedhe.

Kamu mungkin penasaran, apa itu Grebeg dan bagaimana asal usulnya?

Asal Usul Grebeg Jogja

Secara harfiah, Grebeg mencerminkan kerumunan masyarakat yang berkumpul untuk merayakan suatu peristiwa penting di Keraton. Grebeg Jogja sendiri telah ada sejak zaman Kesultanan Mataram Islam dan dilestarikan hingga kini oleh Kesultanan Yogyakarta.

Mengutip dari jogjaprov.go.id, tradisi Grebeg berasal dari tradisi Jawa kuno yang disebut dengan Rajawedha. Dalam tradisi ini, raja akan memberikan sedekah untuk mewujudkan kedamaian dan kemakmuran di wilayah kerajaan.

Ketika Islam masuk di Kerajaan Demak, tradisi ini sempat dihentikan. Rakyat pun merasa resah dan meninggalkan kerajaan yang baru berdiri tersebut.

Tradisi tersebut kemudian dihidupkan kembali oleh Walisongo dengan tradisi sedekah atau kurban. Hal ini dilakukan sebagai sarana menyebarkan agama Islam yang mulanya disebut dengan Sekaten.

Pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, Grebeg mulai dijadikan sebagai salah satu bentuk syukur kepada Tuhan atas segala rezeki dan berkah yang diberikan. Grebeg juga dimaksudkan sebagai sarana untuk mempererat hubungan antara Sultan dengan rakyatnya.

Setiap tahun, Grebeg diadakan tiga kali yaitu Grebeg Syawal, Grebeg Maulud, dan Grebeg Besar. Ketiga Grebeg ini memiliki makna dan tujuan yang berbeda-beda.

Grebeg Syawal

Grebeg Syawal diadakan pada bulan Syawal, tepat setelah Hari Raya Idul Fitri. Grebeg ini merupakan bentuk syukur atas berakhirnya bulan Ramadan dan datangnya hari kemenangan bagi umat Muslim. Dalam Grebeg Syawal, Keraton Yogyakarta mengeluarkan gunungan yang berisi hasil bumi sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan.

Baca Juga :  Temu Karya Sastra 2024 Membumikan Sastra dan Membangun Kreasi

Grebeg Maulud

Prosesi Grebeg Maulud menjadi upacara adat yang dinanti-nantikan masyarakat Jogja setiap hari lahir Nabi Muhammad.

Biasanya, Keraton Yogyakarta mengadakan Grebeg Maulud pada tanggal 12 Rabiul Awal setiap tahunnya.

Grebeg Maulud atau yang juga dikenal dengan Grebeg Sekaten diadakan pada bulan Rabiul Awal untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi Grebeg Maulud ini biasanya diawali dengan acara Sekaten yang berlangsung selama tujuh hari di Alun-alun Utara.

Pada puncak acara, gunungan yang berisi makanan dan hasil bumi diarak dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman untuk dibagikan kepada masyarakat. Setidaknya ada enam gunungan yang dipersiapkan untuk dibagikan.

Empat gunungan akan diarak dari Keraton ke Masjid Besar Kauman, sedangkan dua gunungan lainnya dibawa ke Kantor Gubernur DIY dan Istana Pakualaman.

Grebeg Besar

Grebeg Besar diadakan pada bulan Dzulhijjah, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Grebeg ini juga dikenal sebagai Grebeg Besaran atau Grebeg Qurban. Seperti pada Grebeg lainnya, gunungan hasil bumi diarak dan dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol berbagi dan kebersamaan.

Pelaksanaan Grebeg Jogja

Pelaksanaan Grebeg Jogja selalu berlangsung dengan meriah dan penuh khidmat. Acara ini biasanya dimulai dengan persiapan gunungan di dalam Keraton. Gunungan ini merupakan tumpukan hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, dan makanan tradisional yang dibentuk menyerupai gunung kecil. Setiap gunungan memiliki makna tersendiri, misalnya gunungan jaler (pria) dan gunungan estri (wanita).

Setelah persiapan selesai, gunungan akan diarak keluar dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman dengan iringan musik gamelan dan pasukan prajurit Keraton yang berpakaian tradisional. Masyarakat yang hadir biasanya sangat antusias menunggu momen ini karena mereka percaya bahwa mendapatkan bagian dari gunungan akan membawa berkah.

Baca Juga :  10 Tradisi Upacara Adat Jogja yang Masih Ada Sampai Sekarang

Tradisi yang Biasa Dilakukan dalam Grebeg Jogja

Dalam setiap pelaksanaan Grebeg Jogja, ada beberapa tradisi yang selalu dilakukan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan. Berikut adalah beberapa tradisi yang biasa dilakukan:

1. Kirab Gunungan

Kirab gunungan adalah salah satu bagian paling penting dalam tradisi Grebeg. Gunungan yang sudah dipersiapkan akan diarak dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman. Prosesi ini melibatkan ratusan prajurit Keraton dengan berbagai atribut dan perlengkapan tradisional. Kirab gunungan mencerminkan semangat kebersamaan dan rasa syukur atas segala berkah yang diterima.

2. Rebutan Gunungan

Setelah gunungan tiba di Masjid Gedhe Kauman, masyarakat akan berkerumun dan menunggu momen pembagian gunungan. Tradisi rebutan gunungan menjadi simbol harapan untuk mendapatkan berkah dan rezeki. Meskipun tampak riuh, tradisi ini dilakukan dengan penuh rasa hormat dan kesadaran akan nilai-nilai kebersamaan.

3. Sekaten

Khazanah tradisi Grebeg Maulud juga mencakup perayaan Sekaten yang berlangsung selama seminggu. Pada masa ini, Alun-alun Utara dipenuhi dengan berbagai aktivitas, mulai dari pasar malam, pertunjukan seni, hingga pembacaan kitab suci. Sekaten merupakan bagian dari upaya Keraton untuk menyebarkan ajaran Islam dan mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

4. Upacara Adat

Selain kirab gunungan, berbagai upacara adat juga dilakukan sebagai bagian dari tradisi Grebeg. Upacara ini biasanya melibatkan tokoh-tokoh penting di Keraton dan diiringi oleh musik gamelan yang khas. Setiap upacara memiliki makna filosofis yang mendalam dan mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal.

Tradisi Grebeg tidak hanya menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara Sultan dengan rakyatnya, tetapi juga menjadi cermin keindahan budaya dan identitas Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Related Articles