HomeNews NasionalKasus Bunuh Diri Terjadi Tiga Kali dalam Sehari di Sragen, Ini Motifnya

Kasus Bunuh Diri Terjadi Tiga Kali dalam Sehari di Sragen, Ini Motifnya

Yogya.co, SRAGEN – Warga Sragen digegerkan dengan tiga kasus bunuh diri yang terjadi dalam sehari dan terletak di dua wilayah yang berbeda pada Jumat (6/5/2022). 

Dua orang yang menjadi korban (ayah dan anak) bunuh diri dengan cara menggantung diri tersebut berasal Dukuh Grasak, Gondang, Sragen, Jawa Tengah.

Sementara satu korban lainnya yang juga melakukan gantung diri adalah warga Pengkok, Kedawung, Sragen.

Setelah diselidiki, korban A (40) dan anaknya S (14) ditemukan dalam kondisi tewas gantung diri di kediamannya pada Jumat (6/5/2022) pukul 15.00 WIB.

Saksi mengatakan awalnya ia akan ke rumah korban mengantarkan bancaan akikahan, tetapi sesampainya di rumah yang terlihat sepi, ia pun masuk dan langsung menemukan dua orang dalam kondisi tewas gantung diri.

“Saya mendapat laporan dari Pak RT setelah azan Asar tadi, Pak RT bilang mendapat laporan warga pukul 15.00 WIB. Bapak dan anak itu diketahui menggantung di rumahnya itu pada saat tetangga yang mengantar bancaan akikahan. Tetangga itu kaget melihat kondisi bapak dan anak yang sudah meninggal dunia itu, kemudian lapor Pak RT,” ucap Warsito, Kepala Desa Gondang yang dikutip dari Solopos.

Menurut keterangan saksi, permasalahan ekonomi yang diduga kuat melatarbelakangi tindakan tragis A (40) dan anaknya.

Diketahui sang istri dari A sedang berada di Singapura dan bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW).

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas, kedua jenazah diserahkan kepada keluarga untuk segera dimakamkan.

Satu Korban Lainnya

Sementara itu, di lokasi lain tepatnya Pengkok, Kedawung, Sragen juga terjadi kasus bunuh diri dengan cara menggantung.

Diketahui korban adalah pria berusia 35 tahun berinisial S dan berprofesi sebagai penjual bakso bakar.

Kasi Humas Polres Sragen AKP Suwarso mengatakan bahwa korban diketahui pertama kali oleh sang anak yang berusia enam tahun di dapur.

“Yang pertama kali mengetahui anak korban usia 6 tahun. Saksi lalu memberitahu ibunya yang sedang di kamar bersama adik saksi,” dikutip dari Kumparan.

Korban meninggalkan selembar kertas yang menjadi permintaan terakhirnya dan bertuliskan “Mak/pak tulung jogo Ria Rama mbi Kheyla, anggap anak dewe. Aku wes gak kuat nglakoni urip gak iso turu dudu mergo sopo-sopo, mergo aku dewe, titip Ria karo bocah bocah (Mak/pak tolong jaga Ria Rama, dan Kheyla, anggaplah seperti anak sendiri. Aku sudah tidak kuat menjalani hidup karena tidak bisa tidur, bukan karena orang lain. Titip Ria dan anak-anak).”

Baca Juga: Seluncuran Kenjeran Park Ambrol, 16 Orang Jadi Korban

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Related Articles