YOGYA.CO – Momen berbuka puasa biasa menjadi saat yang paling ditunggu umat Islam, termasuk jamaah yang memadati masjid maupun mereka yang berbuka di rumah masing-masing. Namun, sebelum menyantap hidangan berbuka, ada sunnah puasa yang kerap terlupakan: membaca doa buka puasa yang shahih.
Nah, dalam artikel ini akan kita ulas secara lengkap bacaan doa berbuka puasa sesuai sunnah Rasulullah SAW, lengkap dengan adab dan tata cara membatalkan puasa yang benar.
Doa Buka Puasa yang Shahih: Dzahaba Dhomau
Dalam riwayat sahabat Abdullah bin Umar, doa buka puasa shahih dzahaba dhoma’u merupakan doa yang dibaca setelah berbuka dengan air. Doa ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam hadis nomor 2357 dan dinilai hasan (baik) oleh para ulama.
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
Dzahabadzh dzhamaa’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah
Artinya:
“Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala tetap, insyaallah.”
Doa ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa baru batal ketika membacakan doa di atas. Ketika ingin makan, tetap baca ‘bismillah’ sebagaimana dianjurkan untuk membaca ‘bismillah’ sebelum memulai segala aktivitas, termasuk berbuka puasa.
Landasan Hadits Doa Berbuka Puasa
Dari Ibnu Umar r.a. (diriwayatkan bahwa) dia berkata: “Apabila Rasulullah SAW berbuka, beliau berdoa: ‘Dzahabazh-zhama’u wabtallatil-‘uruqu wa tsabatal-ajru insya Allah’.” (HR. Abu Dawud)
Lalu, Kapan Waktu yang Tepat Membaca Doa Buka Puasa?
Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha dalam Hasyiyah I’anah-thalibin juz 2 halaman 279 menjelaskan bahwa waktu membaca doa buka puasa adalah setelah berbuka, bukan dibaca sebelum dan bukan pula saat berbuka.
Berdasarkan penjelasan ulama, urutan berbuka puasa yang benar adalah:
- Membaca Basmalah ketika azan Maghrib berkumandang
- Membatalkan puasa dengan air putih atau kurma
- Membaca doa dzahaba dhomau setelah menelan makanan/minuman
- Melanjutkan dengan doa pribadi karena waktu ini jadi salah satu waktu mustajab untuk berdoa
Doa Buka Puasa Lainnya: Allahumma Laka Shumtu
Selain doa dzahaba dhomau, ada doa lain yang populer di masyarakat Indonesia, yaitu “Allahumma laka shumtu”. Namun, perlu diketahui bahwa doa ini memiliki derajat hadis yang dhaif (lemah).
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu
Artinya:
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
Doa ini berasal dari hadis dhaif (lemah), namun beberapa ulama tetap membolehkan pengamalannya karena tidak bertentangan dengan syariat.
Kesalahan Umum dalam Membaca Doa Buka Puasa
Beberapa kesalahan yang sering terjadi di masyarakat:
- Membaca doa sebelum berbuka: Padahal seharusnya setelah menelan makanan/minuman
- Menunda berbuka untuk membaca doa panjang: Padahal sunnah adalah menyegerakan berbuka
- Menganggap puasa belum batal tanpa doa: Padahal puasa batal dengan masuknya makanan/minuman, bukan dengan doa
- Membaca doa dengan suara keras secara berjamaah: Tidak ada tuntunan untuk membaca doa secara berjamaah dengan suara keras
Adab Berbuka Puasa Sesuai Sunnah Rasul
Ada tiga hal yang disunnahkan ketika puasa, yaitu menyegerakan berbuka puasa, mengakhirkan makan sahur, dan meninggalkan kata-kata kotor.
1. Menyegerakan Berbuka (Ta’jil al-Fithr)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka“. (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)
Yang dimaksud dengan menyegerakan berbuka adalah segera membatalkan puasa ketika matahari telah tenggelam atau azan Maghrib berkumandang, bukan menunda sampai selesai azan atau selesai shalat Maghrib.
2. Berbuka dengan Kurma atau Air
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air“. (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)
Urutan prioritas berbuka menurut sunnah berdasarkan hadis tersebut, yaitu:
- Kurma basah (ruthob)
- Kurma kering (tamr)
- Air putih
3. Berbuka Sebelum Shalat Maghrib
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan tidak menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan.
4. Waktu Berdoa yang Mustajab
Dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban disebutkan:
ثَلَاثٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan doa orang yang didzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih)
Karena itu, sebelum membatalkan puasa, manfaatkanlah momen ini untuk berdoa memohon kebaikan dunia dan akhirat. Berdoalah untuk diri sendiri, keluarga, dan sesama Muslim.
Manfaatkan momen menjelang dan saat berbuka ini untuk memohon segala hajat kepada Allah SWT, karena momen ini termasuk waktu mustajab yang membuat doa-doa terkabul dengan kemungkinan lebih besar.
5. Tidak Berlebihan dalam Makan
Meskipun telah berpuasa seharian, Islam mengajarkan agar tidak berlebihan saat berbuka. Makanlah secukupnya dan jangan sampai membuat perut terlalu penuh.
Tradisi Berbuka Puasa di Yogyakarta
Di Yogyakarta, masyarakat di sana punya tradisi berbuka puasa yang khas. Masjid Jogokariyan yang legendaris, misalnya, dikenal dengan tradisi melayani jamaah masjid dengan pelayanan luar biasa. Pengelola masjid setiap Ramadan sudah bertahun-tahun selalu menyiapkan ribuan porsi takjil gratis sebanyak 3.800 porsi takjil gratis, setiap hari dan dibagikan kepada jemaah serta masyarakat umum.
Tak heran, menjelang waktu berbuka puasa masjid ini akan dipenuhi banyak orang hingga meluber ke jalanan di sekitar masjid. Penggunaan piring dalam membagikan takjil yang unik dan khas pun sengaja dilakukan untuk turut serta mengurangi produksi sampah kemasan sekali pakai.
Tradisi ini mencerminkan semangat berbagi dan sunnah memberi makan orang yang berpuasa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)
Tradisi membagi-bagikan makanan secara gratis untuk orang yang sedang berpuasa di waktu menjelang berbuka di Yogyakarta telah berkembang di masjid-masjid lain, seperti Masjid Jogokariyan, Masjid Syuhada, dan Masjid Kampus UGM.
Akhirnya, membaca doa buka puasa yang shahih adalah bagian dari kesempurnaan ibadah puasa. Doa “dzahaba dhomau” yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar adalah doa yang paling shahih dan dianjurkan untuk diamalkan.
Namun, yang terpenting bukan sekadar hafal bacaan doa, tetapi juga memahami makna dan mengamalkan adab berbuka puasa sesuai sunnah Rasulullah. Mulai dari mengamalkan sunnah menyegerakan berbuka, berbuka dengan kurma atau air, berbuka sebelum shalat Maghrib, dan memanfaatkan waktu mustajab untuk berdoa.
Semoga bulan Ramadan 1447 H ini menjadi momentum bagi umat Islam Yogyakarta dan seluruh Indonesia untuk memperbaiki kualitas ibadah dan memperbanyak amal kebaikan.
Ramadan Mubarak!


