HomeNews NasionalBerita TrendingKronologi Mahasiswa Unhas Diusir Usai Mengaku Non Biner

Kronologi Mahasiswa Unhas Diusir Usai Mengaku Non Biner

Yogya.co, SLEMANSeorang mahasiswa baru Universitas Hasanuddin (Unhas) Makasar yang berinisial MNA diusir dari ruangan ketika mengikuti acara PKKMB atau Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru. 

Pengusiran itu terjadi setelah ia mengaku sebagai bergender non biner setelah ditanya oleh dosen di depan ruangan. 

Peristiwa tersebut terekam dalam sebuah video yang saat ini viral di media sosial. 

Peristiwa ini bermula ketika MNA mengaku kegerahan di ruanagn sehingga mengipas-ngipaskan tangannya. 

Sehingga ia dipanggil ke depan dan ditanyai mengenai status kelaminnya dan ia mengatakan dirinya berjenis kelamin laki-laki, namun ia tidak mengidentifikasi dirinya dalam kelompok gender laki-laki ataupun perempuan. 

“Di KTP mu apa?” tanya oleh seorang dosen kepada MNA. 

“Laki-laki,” jawab MNA.

“Di KTP mu apa? laki-laki, toh? di Kartu mahasiswa laki-laki atau perempuan?,” tanya Hasrul.

“Laki-laki, pak,” kata MNA lagi.

“Jadi, pilih laki-laki atau perempuan?” 

“Tidak keduanya. Di tengah-tengah, makanya gender netral,” kata MNA.

“Tidak ada netral,” jawab dosen.

Setelah kejadian tersebut dosen memanggil panitia dan meminta MNA membawa tasnya dari dalam ruangan. 

Dalam keterangannya, Sabtu (20/8/2022), Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa mengatakan peristiwa itu telah diselesaikan oleh fakultas. 

Pihak fakultas juga mengatakan bahwa sudah memanggil orang tua MNA untuk melakukan mediasi. 

Setelah kejadian tersebut, Jamaluddin menegaskan Unhas merupakan lembaga pendidikan tinggi yang inklusif. 

Ia mengatakan bahwa Unhas terbuka bagi semua orang. 

“Bahwa ini Unhas inklusif ya. Bahwa Unhas ini terbuka untuk semua. Kita tentu juga terbuka sedikit peluang, kita perbaiki dan kita minta maaf kalau perlu,” kata Jamaluddin di Unhas, Makassar. 

Menurutnya peristiwa dari pengusiran MNA ini merupakan perselisihan biasa. 

Baca Juga :  Heboh Kasus Penganiayaan David, Dirjen Pajak Was-Was Nasib 45 Ribu Pegawai DJP

Jamaluddin juga memastikan persoalan tersebut diselesaikan dengan baik-baik. 

Ia pun juga tidak sepakat bila peristiwa tersebut sebagai “pengusiran” dan menurut Jamaluddin, dosen yang berada di ruangan tersebut hanya menggunakan suara keras. 

“Saya kira bukan pengusiran, saya kira bahasa bahasa itu biasa dalam penerimaan mahasiswa baru, suara keras. Kita pasti ambil langkah,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Related Articles