HomeNews NasionalSejarah Tradisi Lebaran Ketupat, Tujuan, dan 4 Makna Filosofinya

Sejarah Tradisi Lebaran Ketupat, Tujuan, dan 4 Makna Filosofinya

Yogya.co, SLEMAN – Tinggal menghitung jari, umat muslim akan sampai pada hari kemenangan, yakni Hari Raya Idul Fitri 1444 H. Salah satu tradisi ketika Hari Raya Idul Fitri adalah Lebaran Ketupat.

Lebaran Ketupat umumnya dilaksanakan satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri, tepatnya pada 8 Syawal. Berikut ini akan diuraikan mengenai sejarah tradisi Lebaran Ketupat beserta tujuan dan makna filosofinya.

Sejarah Lebaran Ketupat Masyarakat Jawa

Dikutip dari laman NU Onnline, Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga merupakan salah satu dari 9 wali Allah atau yang dikenal dengan Walisongo.

Mereka adalah orang-orang yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Ketika itu, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah Bakda (lebaran) kepada masyarakat Jawa, yakni Bakda Lebaran, dan Bakda Kupat.

Adapun Bakda Lebaran dimulai dari prosesi pelaksanaan salat Id, yakni pada 1 Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan sesama muslim. Sementara itu, Bakda Kupat itu dilaksanakan seminggu setelahnya.

Uniknya, saat Lebaran tersebut, masyarakat muslim Jawa umumnya akan membuat ketupat yang kemudian dibagi-bagikan kepada sanak saudara.

Baca Juga: 5 Amalan Sunnah Saat Idul Fitri yang Perlu Kamu Ketahui!

Tujuan dan Makna Lebaran Ketupat

Lebaran Ketupat memiliki makna sebagai simbol kebersamaan serta lambang kasih sayang. Salah satu daerah yang melestarikan Lebaran Ketupat ini adalah Surabaya dan sekitarnya.

Dilihat dari asal istilah ketupat, dalam bahasa Jawa, kata ketupat berasal dari kata kupat, yang artinya ngaku lepat dan laku papat, yakni mengakui kesalahan dan empat tindakan.

Ngaku lepat atau mengakui kesalahan ndilakukan dengan pelaksanaan tradisi sungkeman. Tradisi tersebut dilakukan dengan maksud memohon maaf kepada orang tua.

Dalam hal ini kita diajarkan untuk selalu menghormati orang tua dan selalu mengharapkan bimbingannya. Tradisi ini uga menggambarkan bukti kasih sayang antara anak dan orang tua.

Baca Juga :  Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik 3000 Meter di Atas Puncak

Selain itu, sungkeman juga dilakukan terhadap sanak saudara lainnya, tetangga, dan yang lainnya. Oleh karena itu, makna ketupat dalam hal ini adalah menuntun umat Islam untuk saling memaafkan dengan penuh keikhlasan.

Sementara itu, makana Labaran Ketupat dari asal kata laku papat adalah sebagai berikut.

  1. Lebaran yang berarti usai yang menandakan bahwa puasa Ramadan telah berakhir.
  2. Luberan alias melimpah, seperti air yang tumpah. Kata ini memiliki makna berbagi kepada fakir miskin bagi orang-orang yang mampu atau memiliki kelebihan harta.
  3. Leburan yang berarti meleburkan dosa dan saling memaafkan. Dengan begitu, dosa yang telah diperbuat dapat melebur dan kembali fitri.
  4. Laburan artinya labur atau kapur putih. Artinya, hati seorang muslim akan kembali jernih dan suci dengan berbagai ibadah yang telah dilakukan selama Ramadan penuh.

Nah, itulah sejarah tradisi Lebaran Ketupat, tujuan dan makna filosofinya.

Dinna
Dinna
Wanita yang berkecimpung di dunia kepenulisan sejak duduk di bangku kuliah. Tak hanya di dunia jurnalistik, gadis kelahiran Gresik ini juga terjun di dunia Copy Writing dan SEO Content Writing hingga saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Related Articles