YOGYA.CO – Dilansir dari situs resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), arti logo UGM mencerminkan identitas resmi universitas yang sarat akan nilai sejarah, filosofi kebangsaan, dan dasar ideologis Pancasila.
Sebagai “trade mark” yang lahir dari cita-cita luhur, setiap elemen dalam lambang ini merepresentasikan jati diri salah satu institusi pendidikan tinggi tertua di Indonesia tersebut.
Penegasan Resmi Lambang UGM
Pentingnya akurasi dalam menjaga marwah universitas pernah ditegaskan secara khusus oleh Prof. Dr. Ir. Mochammad Adnan saat menjabat sebagai Rektor UGM.
Melalui surat tertanggal 31 Oktober 1993, beliau menginstruksikan pembetulan massal pada kop surat, kalender, buku panduan, hingga vandel.
Hal ini dipicu oleh seringnya terjadi kekeliruan pada jumlah sorot sinar surya yang seharusnya berjumlah 19 sebagai simbol angka kelahiran UGM.
Menurut Prof. Adnan, lambang ini memiliki makna sangat mulia yang harus dijaga presisinya agar tidak kehilangan ruh filosofisnya.
Sejarah Kelahiran Logo UGM
Sejarah logo UGM berawal dari rapat Senat UGM pada tahun 1950. Lambang yang kita kenal sekarang disusun oleh Sekretaris Senat UGM dan digambar secara detail oleh R. Johannes Katamsi Martorahardjo (Katamsi).
Sebagai seniman sekaligus akademisi, Katamsi memvisualisasikan jati diri UGM ke dalam bentuk yang dibagi menjadi tiga bagian utama:
- Pusat Lambang: Berupa surya atau matahari berlubang kuning emas dengan dua lingkaran bersusun (surya kembar). Lingkaran dalam berbunyi GADJAH MADA, sedangkan lingkaran luar bertuliskan UNIVERSITAS JOGJAKARTA.
- Kartika (Bintang): Lima kesatuan kumpulan sinar surya yang membentuk bintang segi lima.
- Lima Songkok dan Tombak: Lambang ini dilindungi oleh lima songkok (topi kebesaran panglima) berwarna putih dan lima tombak berwarna kuning.
Filosofi Angka di Balik Simbol “Surya Binolong”
Makna logo UGM menyimpan detail angka yang merujuk tepat pada tanggal pendiriannya, yakni 19 Desember 1949:
- Tanggal 19: Diwakili oleh “surya binolong” (matahari berlubang). Dalam filosofi angka, surya berarti 1 dan binolong berarti 9. Selain itu, setiap kesatuan kumpulan sinar terdiri dari 19 sorot sinar.
- Bulan 12 (Desember): Terwakili oleh dua lingkaran bersusun di dalam bintang. Kartika (bintang) bermakna 1 dan surya kembar bermakna 2, yang jika digabungkan menjadi angka 12.
- Tahun 1949: Diwakili oleh sengkalan memet yang berbunyi: “Murnining suci marganing kanyatan” (kemurnian kesucian adalah jalan kenyataan). Secara numerik: Murni (9), Suci (4), Marga (9), dan Kanyatan (1). Jika dibaca dari belakang, rangkaian ini merujuk pada tahun 1949.
Wujud Pancasila dan Semangat Kepahlawanan
Secara menyeluruh, arti lambang UGM menegaskan posisi institusi sebagai Balai Nasional Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan yang berasaskan Pancasila.
Pengulangan jumlah lima pada sinar, sudut bintang, songkok, dan tombak adalah simbolisasi dari lima sila Pancasila.
Kehadiran songkok dan tombak melambangkan sifat pahlawan dan perjuangan nasional yang selalu siap sedia serta waspada.
Hal ini selaras dengan slogan UGM untuk terus menjadi monumen perjuangan yang memancarkan ilmu pengetahuan, kenyataan, dan kebajikan.
Identitas yang Melekat pada Atribut Akademik
Amanah dari makna lambang ini juga dituangkan secara fisik pada perangkat resmi universitas:
- Pakaian Jabatan Guru Besar: Diwujudkan dalam topi persegi lima dan lima songkok pada bagian leher serta lengan.
- Duaja Universitas: Lambang ditempatkan di atas perpaduan warna kuning emas dan putih.
- Tongkat Pedel: Lambang diletakkan pada bagian ujung dan dibuat bersisi dua.
Menjaga Kemuliaan Jati Diri Kampus Biru
Memahami kompleksitas arti lambang UGM memang bukan perkara mudah, namun sangat penting untuk mencegah kekeliruan teknis sebagaimana yang ditemukan oleh Prof. Adnan.
Dengan menghayati setiap garis dan warnanya, setiap anggota keluarga besar UGM diharapkan mampu mengemban nilai-nilai perjuangan dan kesucian yang menjadi landasan utama kampus ini sejak tahun 1949.


