HomeNews YogyaMengenal Jalur Sesar Opak dan Potensi Gempa di Yogyakarta

Mengenal Jalur Sesar Opak dan Potensi Gempa di Yogyakarta

YOGYA.CO – Bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), nama Sesar Opak bukan lagi istilah asing. Patahan aktif ini menjadi memori kolektif yang menyakitkan sekaligus pengingat pentingnya mitigasi setelah peristiwa gempa Jogja 2006 silam yang meluluhlantakkan wilayah Bantul dan sekitarnya.

Kewaspadaan ini kembali meningkat setelah gempa tektonik berkekuatan Magnitudo 4,5 mengguncang Bantul pada Selasa, (27/1/2026), pukul 13.15 WIB. Menurut berbagai sumber dan rilis BMKG, gempa tersebut dikonfirmasi terjadi akibat aktivitas sesar yang sama.

Apa Itu Sesar Opak dan Di Mana Letaknya?

Sesar Opak adalah struktur patahan aktif yang menjadi batas antara dua bentang alam berbeda: dataran rendah endapan vulkanik di sisi barat dan perbukitan batuan kapur Pegunungan Seribu di sisi timur.

Aktivitas sesar ini kerap memicu gempa dangkal, sehingga energi yang dilepaskan terasa kuat hingga ke permukaan.

Lantas, sesar opak ada di mana? Secara geografis, zona sesar ini mengikuti alur Sungai Opak dengan bentangan yang sangat aktif.

Jalur Sesar Opak dimulai dari kawasan Prambanan, Kabupaten Sleman, lalu memanjang ke arah barat daya hingga berakhir di wilayah barat Parangtritis, tepatnya di sekitar Pantai Depok, Kabupaten Bantul.

Jejak Tektonik di Bukit Mengger

Salah satu lokasi penting untuk mempelajari karakteristik Sesar Opak berada di kawasan Bukit Mengger, Bantul. Di wilayah ini, para ahli geologi menemukan indikasi pergeseran lapisan batuan yang menjadi bukti bahwa sesar tersebut masih aktif secara tektonik.

Berdasarkan kajian kebencanaan, aktivitas sesar lokal seperti Sesar Opak merupakan salah satu sumber gempa darat di wilayah Yogyakarta. Berbeda dengan gempa megathrust di zona subduksi laut selatan Jawa, gempa akibat sesar ini umumnya bersifat dangkal.

Baca Juga :  Meluas, 15 Ternak dan 23 Warga di Gunungkidul Diduga Terinfeksi Antaraks

Kondisi tersebut membuat guncangan terasa kuat di permukaan dan berpotensi menimbulkan kerusakan serius, meskipun magnitudonya tidak selalu besar.

Pembaruan Peta dan Teknologi Monitoring

Pemerintah dan instansi terkait terus memperbarui peta Sesar Opak untuk memetakan zona kerawanan gempa secara lebih akurat.

Hal ini menjadi krusial karena pengalaman dari gempa Jogja 2006 dan gempa terbaru menunjukkan bahwa zona terdampak tidak hanya berada tepat di garis patahan, tetapi juga meluas akibat kondisi tanah yang lunak (sedimen gunung api).

Dalam sistem peringatan dini nasional, InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) yang dikelola BMKG menjadi bagian dari infrastruktur pemantauan kebencanaan berbasis sensor.

Meski difokuskan untuk peringatan tsunami, data seismik yang terintegrasi dalam sistem ini turut mendukung penguatan jaringan pemantauan gempa, sehingga informasi kejadian gempa dapat disampaikan lebih cepat dan akurat kepada masyarakat Yogyakarta.

Strategi Mitigasi Gempa di Yogyakarta

Kewaspadaan geologi di Yogyakarta tidak hanya berfokus pada satu jalur patahan. Sejumlah kajian juga menyoroti keberadaan struktur patahan lain yang kerap disebut sebagai Sesar Mataram, meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk pemetaan yang lebih rinci.

Kompleksitas struktur geologi ini menuntut penerapan standar mitigasi bencana yang tinggi di wilayah Yogyakarta.

Pemahaman terhadap karakter dan potensi pergerakan sesar-sesar di kawasan ini menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan tata ruang serta penerapan standar keamanan bangunan.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada tanpa panik, mengikuti arahan resmi dari BPBD dan BMKG, serta memastikan bangunan memenuhi ketentuan tahan gempa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Related Articles