HomeLifestyleMengenal Tradisi Malam Satu Suro di Yogyakarta

Mengenal Tradisi Malam Satu Suro di Yogyakarta

YOGYA.CO – Kawasan sekitar Keraton Yogyakarta setiap tahunnya selalu dipadati oleh ribuan orang pada malam pergantian tahun baru Jawa.

Berbeda dengan tahun baru Masehi yang identik dengan kembang api, tradisi Malam satu Suro justru dirayakan dengan suasana sunyi dan khidmat.

Momen ini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya sekaligus periode spiritual terpenting bagi masyarakat Yogyakarta.

Sejarah Singkat Malam Satu Suro

Banyak yang belum mengetahui bahwa tradisi Malam satu Suro memiliki akar sejarah yang kuat. Dimulai pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1633 M menetapkan kalender Jawa sebagai hasil perpaduan kalender Saka (Hindu) dan Hijriah (Islam).

Penetapan ini tidak serta-merta menciptakan seluruh ritual Malam Satu Suro seperti yang dikenal saat ini, melainkan menjadi dasar sistem penanggalan yang kemudian berkembang dalam tradisi keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Apakah Malam Satu Suro Sama dengan Tahun Baru Islam?

Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah Malam 1 Suro dalam Islam sama dengan Tahun Baru Islam? Jawabannya adalah iya secara waktu, namun berbeda secara budaya.

Secara kalender, 1 Suro jatuh pada tanggal yang sama dengan 1 Muharram karena sistem penanggalannya mengacu pada siklus bulan yang sama.

Namun, perbedaannya terletak pada cara perayaannya. Tahun Baru Islam umumnya dirayakan dengan doa bersama atau pawai obor, sementara Malam Satu Suro di Jawa diperkaya dengan elemen budaya seperti kirab pusaka dan laku prihatin yang khas sebagai bentuk akulturasi budaya.

Malam Satu Suro Artinya Apa?

Malam Satu Suro artinya malam penanda dimulainya tahun baru Jawa, yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Istilah Suro secara historis berakar dari kata Asyura, namun dalam budaya Jawa dimaknai sebagai nama bulan pertama dalam kalender Jawa, bukan merujuk pada hari ke-10 Muharram.

Baca Juga :  Sehatkah Menggoreng Makanan dengan Mentega atau Margarin?

Tujuan Malam Satu Suro bagi masyarakat Jawa adalah melakukan mawas diri dan refleksi batin sebagai bentuk penyucian diri dalam menyambut tahun yang baru.

Kegiatan Khas Tradisi Malam satu Suro di Yogyakarta

Hingga saat ini, Yogyakarta tetap menjadi pusat pelestarian tradisi ini dengan beberapa kegiatan utama:

1. Mubeng Beteng dan Tapa Bisu

Ribuan warga berjalan kaki mengelilingi benteng keraton dalam keheningan total. Kegiatan Tapa Bisu ini melambangkan keprihatinan dan kontrol diri agar tidak bicara sembarangan, sekaligus simbol kepasrahan kepada Tuhan.

2. Ngumbah Keris (Jamasan Pusaka)

Kegiatan mencuci benda pusaka untuk merawat fisik senjata tradisional sekaligus melambangkan pembersihan jiwa dari noda-noda batin sebelum memasuki tahun yang baru.

3. Kirab Pusaka

Prosesi mengarak benda-benda pusaka milik keraton mengelilingi area luar keraton. Kegiatan ini biasanya diikuti oleh para abdi dalem dan menjadi magnet bagi wisatawan serta masyarakat yang ingin memohon keselamatan kota.

4. Ziarah ke Makam

Warga melakukan ziarah ke makam leluhur atau raja-raja sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan asal-usul manusia serta kematian.

5. Jamuan Bubur Suran dan Bubur Merah-Putih

Sebagai penutup rangkaian, masyarakat biasanya membuat dan membagikan bubur suran serta bubur merah-putih. Bubur ini bukan sekadar hidangan, melainkan simbol syukur atas rezeki serta perlambang keseimbangan energi dalam menghadapi tantangan di tahun mendatang.

Menelusuri Mitos dan Fakta Malam Satu Suro

Malam Satu Suro sering dikaitkan dengan berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Tak sedikit yang bertanya, apakah malam satu Suro berbahaya?

Dalam tradisi Jawa, anggapan tersebut lebih merupakan simbol kewaspadaan dan ajakan untuk bersikap eling, bukan penanda bahaya secara harfiah. Berikut beberapa mitos yang berkembang di masyarakat.

Baca Juga :  Menanti Lebaran, Sudah Tahu Cara Tukar Uang Baru di Bank Indonesia?

Mitos Keluar Rumah dan Hal Gaib

Salah satu larangan malam satu Suro yang paling dikenal adalah tidak keluar rumah pada malam hari. Secara budaya, larangan ini dipahami sebagai upaya mengajak masyarakat fokus berdoa dan introspeksi diri, bukan aktivitas hiburan.

Larangan Menikah dan Hajatan

Larangan menikah atau menggelar hajatan di bulan Suro berkaitan dengan tradisi masa prihatin, khususnya dalam budaya keraton. Masyarakat dianjurkan menjaga suasana khidmat dengan menunda perayaan besar.

Kesaktian Benda Pusaka

Tradisi jamasan pusaka kerap dikaitkan dengan kekuatan gaib. Namun, di baliknya terdapat fungsi simbolik dan praktik perawatan pusaka agar tetap terjaga dan awet.

Malam Satu Suro Tanggal Berapa? (Update 2026)

Karena menggunakan sistem lunar (bulan), tanggal Malam Satu Suro dapat bergeser setiap tahunnya. Pada 2026, Malam Satu Suro diperkirakan jatuh pada malam 15 Juni 2026 (menuju tanggal 16 Juni sebagai 1 Suro/1 Muharram 1448 H).

Tradisi Malam Satu Suro bukan sekadar mistisisme, melainkan bukti nyata bagaimana sejarah, agama, dan budaya dapat melebur menjadi satu identitas.

Dengan memahami makna di balik setiap kegiatannya, kita ikut menjaga kearifan lokal yang memperkaya khazanah nusantara di tengah gempuran zaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Related Articles